PERGERAKAN HARGA DINAR DALAM 24 JAM

Jumat, 21 September 2012

Bersyirkah Dalam Tiga Hal…


Seribu empat ratus tahun lebih sebelum manusia modern mencemaskan tiga kelangkaan yang disebut FEW (Food, Energy and Water) atau makanan, energi dan air, Uswatun Hasanah kita telah memberikan solusinya untuk umat ini dalam sabda beliau : “Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput, air dan api” (Sunan Abu Daud, no 3745).

Hadits di atas menguatkan keyakinan kita akan kebenaran tuntunan agama ini, sebagai agama akhir jaman – dimana kita tidak akan pernah tersesat selamanya selama kita berpegang pada dua pegangannya yaitu Al-Qur’an dan Al Hadits.

Di dunia yang semakin kapitalis, sumber-sumber kehidupan seperti lahan, air dan api (selanjutnya saya sebut energi) diperebutkan oleh kelompok-kelompok manusia dengan serakahnya. Yang kuat tentu menjadi pemenangnya, menyisakan mayoritas manusia dalam kekurangan.

Padang rumput yang mewakili lahan produksi, kini tinggal segelintir orang saja yang masih menguasainya – bahkan menguasainya secara berlebihan. Ada keluarga yang menguasai lahan begitu luasnya sehingga mampu membuat tiga kotanya sendiri di seputar Jakarta. Bahkan pernah ada di negeri ini kelompok usaha yang menguasai hak pengelolaan hutan seluas kerajaan Inggris !

Yang lainnya bagaimana ?, mayoritasnya berjuang dengan kerja keras hanya untuk bisa menguasai lahan beberapa puluh atau ratus m2 untuk rumahnya – inipun banyak yang tidak terjangkau. Kepemilikan lahan pertanian yang waktu saya kuliah dahulu masih di kisaran 0.25 ha/keluarga, konon kini tinggal sekitar 0.10 ha/keluarga karena telah dipecah-pecah menjadi bagian anak-anak dari pemilik sebelumnya (waris).

Air bersih yang dahulu mudah kita ambil sendiri dari sumur-sumur kita, kini selain jumlahnya yang menyusut – pencemaran dan intrusi air laut telah membuat air tanah dari sebagian besar kota tidak lagi layak minum. Penduduk yang kaya di perkotaan masih bisa membeli air dengan relatif murah dari PDAM setempat, ironinya justru penduduk miskinnya membayar air dengan harga lebih mahal melalui jerigen-jerigen yang dijajakan dalam kereta dorong tukang air.

Api atau energi yang mestinya tersedia cukup untuk semua orang, kembali hanya yang mampu yang punya pilihan. Ketika pemerintah pusing dengan subsidinya, yang mampu tetap bisa membeli bahan bakar non subsidi atau bahkan bahan bakar yang dijajakan oleh pompa-pompa bensin asing.

Lha yang miskin bagaimana ?, mereka dahulu terbiasa membeli minyak tanah secara eceran satu - dua liter atau bahkan kurang dari satu liter – karena penghasilan mereka hari itu harus dibagi-bagi sebagian untuk beras, sebagian untuk minyak sebagai bahan bakar untuk memasaknya. Kini untuk mampu membeli gas 3 literan-pun mereka harus menabung dahulu dari penghasilannya beberapa hari.

Gejala kelangkaan pangan, energi dan air itu begitu nyata dan akan semakin parah dampaknya pada generasi-generasi yang akan datang kecuali bila kita bisa mulai berbuat membalik arahnya pada generasi ini.

Dengan apa kita bisa berbuat ini ? bukan dengan revolusi, redistribusi aset atau istilah-istilah lain yang  menyeramkan bagi sebagian orang. Kita bermain sesuai dengan jamannya, dengan bahasa kaumnya !, bila lahan-lahan yang luas itu hanya bisa diselamatkan dengan membelinya – maka marilah kita rame-rame yang mampu membelinya.

Setelah lahan-lahan luas tersebut berhasil kita kuasai rame-rame, maka kita akan bisa menerapkan kembali konsep yang diungkapkan dalam hadits tersebut di atas. Kita bisa bersyirkah dalam pengelolaan lahan produksi, energi dan air.

Itulah sejatinya latar belakang pemikiran KKP (Kepemilikan Kebun Produktif) yang kami gagas, agar rame-rame umat ini dapat kembali menguasai lahan. Setelah dikuasai, dimakmurkan bersama untuk produksi pangan – sehingga tidak melanggengkan ketergantungan pada produksi bahan pangan impor. Untuk produksi energi, sehingga yang miskin-pun bisa punya pilihan energinya – produksi bioethanol misalnya akan memungkinkan untuk tujuan ini. Untuk memperbaiki cadangan air dalam tanah – sehingga mengamankan kebutuhan air untuk anak cucu, tanaman-tanaman jangka panjang akan bisa menjadi sarana untuk ini.

Solusi untuk segala macam persoalan kita itu sudah ada di grand design-Nya yang sempurna, yaitu Al-Qur’an dan sunah RasulNya – kita hanya tinggal terus menggali dari keduanya agar tidak pernah tersesat selamanya – InsyaAllah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar